Seorang ilmuwan dari Universitas California, William Frederick Gericke tahun 1930-an mengembangkan metode bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Dari situlah istilah Hidroponik dipopulerkan. Hidroponik adalah teknik budidaya tanaman yang memanfaatkan air sebagai media tanam, dengan memberikan nutrisi yang dibutuhkan tanaman melalui air. Dalam hidroponik, akar tanaman tumbuh dalam larutan nutrisi atau media tanam seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, atau rockwool.
Nah, prinsip dasar hidroponik itu adalah menyediakan nutrisi dalam bentuk larutan air, menyediakan oksigen untuk akar, menyediakan penyangga agar tanaman berdiri tegak, serta mengendalikan suhu, cahaya dan kelembaban.
Lalu apa keuntungan metode hidroponik dibanding dengan menanam di tanah?
Pertama, bisa memanfaatkan ruang sempit, artinya kita tidak perlu lahan berhektar-hektar untuk menanam. Kedua, kita lebih mudah mengontrol pemberian nutrisi ke tanaman, lebih efisien dan akurat. Sementara tanam di tanah kontrol nutrisinya lebih sulit karena dipengaruhi oleh kondisi tanah. Ketiga, penggunaan air di hidroponik lebih sedikit karena air dapat didaur ulang. Sementara tanaman di tanah. sangat bergantung ketersediaan air di alam. Keempat, adalah pertumbuhan tanaman di hidroponik lebih cepat karena nutrisi tanaman terus dikontrol. Sementara tanaman di tanah pertumbuhannya lebih lambat karena akar harus mencari nutrisi di dalam tanah. Kelima, pengendalian hama dan penyakit tanaman. Di hidroponik kita lebih mudah mengendalikan hama penyakit, sementara di tanah lebih sulit karena lingkungan terbuka.
Apakah kita menanam di tanah atau hidroponik, masing-masing cara dan media tanam punya kelebihan dan kekurangannya. Soal biaya, hidroponik butuh banyak biaya di awal karena membutuhkan peralatan dan sistem yang lebih kompleks. Tetapi hidroponik biaya operasionalnya lebih rendah. Berbeda dengan tanam di tanah, petani memang tidak butuh banyak biaya di awal. Tetapi saat semua menanam, mereka butuh banyak biaya, terutama untuk pupuk dan pengendalian hama.
Overall, hidropronik memang lebih unggul dibanding media tanam di tanah. Meskipun skala jumlah produksi berbeda dengan tanaman di tanah, namun hidroponik menawarkan kualitas tanaman dan waktu panen yang bisa diatur. Dalam banyak kesempatan saat bertemu kelompok-kelompok tani dampingan, saya sering mendengar keluhan petani dari tahun ke tahun banyak yang mengalami gagal panen karena kondisi iklim dan serangan hama penyakit.
Di akhir tahun 2022 hingga awal 2023 kami pernah melakukan riset tentang adaptasi perubahan iklim terhadap rumah tangga petani kelapa di Kabupaten Buton. Yang kami temukan, rata-rata petani kelapa di Kecamatan Siotapina, Lasalimu Selatan dan Lasalimu mengalami penurunan produksi dari tahun ke tahun. Masalahnya adalah serangan hama yang merusak tanaman dan kondisi iklim yang tidak menentu sehingga produksi dan kualitas tanaman menurun. Akibatnya pendapatan ekonomi rumah tangga mereka menurun jika dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Banyak pelajaran yang bisa kami petik selama mendampingi dan live in bersama mereka yang hari-harinya bergumul dengan tanah, cangkul dan hewan ternak. Dalam periode 2022 sampai 2023 kami pernah menyalurkan 105.000 bibit tanaman ke petani, dari sebuah proyek karbon yang didanai oleh lembaga dari salah satu negara di Eropa. Sayangnya survival rate tanaman cukup jauh dari apa yang diharapkan, kira-kira hanya 40-50% saja yang bisa bertahan. Dalam periode tahun itu memang iklim cukup ekstrim, suhu bumi meningkat, sebagaimana laporan BMKG. Banyak lahan pertanian yang kering dan sebagian lahan petani dilalap api. Belum lagi serangan hama babi dan monyet, bibit tanaman yang belum lama ditanam dirusak oleh hama.
Di awal tahun ini kami mencoba proyek baru dengan membuat kebun hidroponik bermodal sumber daya dan dana seadanya. Mereka yang terlibat dalam proyek adalah anak-anak muda desa yang sudah cukup lama meninggalkan bangku kuliah serta kesibukannya berorganisasi. Kini mereka kembali ke kampung untuk melihat realita yang sesungguhnya.
Saya bertemu Rahmat di balkon sebuah kedai kopi. Baru tiga bulan lalu dia menyelesaikan studi Ekonomi Manajemen Fakultas Ekonomi Unismuh Buton di Baubau. Dia banyak cerita soal pengalamannya bekerja serabutan demi menyelesaikan kuliah. Lalu, di situ ada Wahid, dia lulus di Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo di Kendari. Dia cerita tentang pengalamannya pernah kerja sebagai penjaga tungku di salah satu perusahaan tambang di Sulawesi. Di situ ia menyaksikan orang-orang bekerja dengan resiko tinggi. Mereka tidak boleh melakukan sedikitpun kesalahan karena nyawa taruhannya, sementara upah kerjanya tidak seberapa. Hanya beberapa bulan Wahid bekerja sebagai penjaga tungku di perusahaan tambang. Ia memilih keluar dan pulang kampung dengan sedikit tabungan yang didapat selama bekerja.
Saya melihat hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu di warung kopi hanya untuk numpang wifi, main game, nimbrung bahas proyek, atau sekedar gabung dalam gosip politik. Seperti itulah hari-hari anak muda kita, kaum urban yang mencoba cari peruntungan di tengah kehidupan kota yang glamor.
Sejak terlibat kerja dengan mereka dalam setahun ini, saya melihat potensi mereka. Rahmat punya kemampuan mapping wilayah-wilayah pertanian desa, mengadvokasi dan memfasilitasi kelompok masyarakat. Sementara Wahid, dia expert dalam mengolah hasil-hasil pertanian dan perkebunan menjadi produk lokal. Dia juga sedang mengembangkan alat destilasi mesin penyuling minyak nilam, dan saat ini kita sama-sama mengembangkan tanaman hidroponik.
Kebun hidroponik ini sebetulnya hanya sampingan dan sebagai ruang praktik belajar, karena kami sedang membangun satu kebun pembibitan yang skalanya cukup besar untuk sebuah proyek restorasi. Untuk sementara baru 200an lubang tanam hidroponik, sebagai uji coba. Rencananya akan kami buat 1000 sampai 2000 lubang tanam, tentu dengan kesiapan budget dan ketersediaan ruang yang memadai.